Jumat, 19 Desember 2008

Mata Diabetik

Pada seorang penderita diabetes hal apakah yang paling 'menyebalkan' baginya ketika ia datang ke optik untuk membuat sebuah kacamata? Mungkin ia akan menjawab, "Saat ketika mata saya akan diperiksa, sang Optisien menanyakan perihal penyakit diabetes saya ini!". Yah ! Saya pun sebagai optisien sering melihat kekesalan pada mereka, walaupun tidak sampai 'keras-kerasan', namun hal itu terkadang tampak pada ekspresi wajah mereka. Beberapa diantaranya bisa menerima kondisi itu, beberapa orang lagi terlihat sedih, dan yang sebagian lagi nampak kesal. Sebenarnya ada apa dengan mata seorang penderita diabetes ini.

Anatomi mata manusia


Seperti kita ketahui, bahwa mata kita tidak hanya terdiri dari otot dan sel-sel epitel saja. Di dalam mata kita pun ada dua ruang yang berisi cairan tubuh. Yang pertama, yaitu terletak antara kornea dan lensa mata (Aqueus Humor). Dan yang kedua, terdapat di tengah2 bola-mata kita (Vitreus Body), yaitu antara lensa mata dan di depan retina. Cairan2 itu pun akan dilalui oleh berkas cahaya yang masuk ke dalam bola mata kita, ia berfungsi juga sebagai media pembiasan dari sinar2 yang melaluinya. Nah ! Apa jadinya bila terjadi kebocoran pada pembuluh2 darah di retina saat gula darah naik tak terkontrol... Rembesan darah akan terlepas dan menyebar mempengaruhi cairan media optik tersebut, visus (ketajaman penglihatan) mata pada penderita diabet ini pun berubah dan terus berubah.

Pada penderita diabet yang sudah berat dan yang sudah cukup lama, ia akan memiliki tajam-penglihatan (visus) yang cukup buruk. Para penderita diabet ini mengalami gangguan aliran darah yang menuju ke bagian dalam bola mata. Gangguan ini akan menyebabkan reaksi tubuh yang berusaha untuk mengimbanginya, yaitu dengan membuat arteri baru di sekitar retina. Arteri2 baru ini akan mengakibatkan timbulnya jaringan parut dan juga akan memungkinkan terjadi kebocoran2 (perforasi) dari arteri tersebut. Lalu, rembesan2 darah itu akan melatar-belakangi penyimpangan pada retina (Retinophaty-Diabetic), tentu juga gangguan penglihatan, dan yang paling 'parah' dapat menyebabkan kebutaan! Jika anda penderita diabetes lebih dari 5 tahun, mungkin perlu untuk memeriksakan mata anda ke dokter mata paling tidak setahun sekali.



Dari uraian diatas, mungkin bisa dimaklumi kesulitan kami para optisien pada saat mengahadapi pelanggan dengan diabetesnya ini. Ukurannya yang terus berubah dan tidak stabil itu, menjadi hambatan bagi para optisien untuk memprosesnya menjadi sebuah kacamata. Pada saat pemeriksaan refraksi bisa saja kita dapatkan ukuran mata dengan visus sekian..., namun setelah kacamata dibuat dan dipakai untuk beberapa hari saja, sang pelanggan pun akan kembali karena ukuranya itu tidak nyaman.Wah, ini sungguh riskan bukan?

Untuk masalah ini, lebih disarankan agar pasien terlebih dahulu melakukan kontrol terhadap diabetesnya, bila sudah dalam kondisi normal baru kemudian dapat dilakukan pengecekan refraksi mata.


Terimakasih......